Sebenernya saya terinspirasi dari salah satu cerita yang pernah saya baca, dan cerita itu bagus banget dan lumayan panjang.
Ceritanya mengenai seorang pria yang sangat mahir bermain piano. Pria ini terkenal dengan sifatnya yang dingin, dan di akademi tempat ia belajar, sebelum lulus semua murid yang sudah senior harus membimbing seorang murid junior sebagai tugas akhirnya. Hal yang sama berlaku pada si pria ini.
Pembimbing sang pria menyuruh sang pria untuk membimbing seorang junior wanita. Nah, junior ini sama sekali tidak bisa memainkan musik klasik dengan piano. Sebagai senior yang merasa dirinya perfect, sang pria pun menganggap remeh sang wanita.
Keesokan harinya, ia dan sang wanita bertemu di ruang piano. Sudah ada dua grand piano disana, dan sang pria melemparkan sebuah buku kepada wanita tersebut. Judulnya "Mozart's Sonata for Two Pianos". Komposisi ini dibuat oleh Mozart dan dimainkan bersama muridnya, Josephine von Aurnhammer. Terdiri dari tiga gerakan : Allegro con spirito, Andante, dan Molto Allegro (jujur saya juga nggak ngerti istilah begini -.-) . Setelah itu ia meninggalkan sang wanita yang masih duduk terdiam dengan muka shock. Ia pergi ke ruangan gurunya.
Sesampainya di sana, gurunya melihatnya sambil tersenyum. Gurunya berkata "Sonata for Two Pianos adalah satu-satunya partitur untuk duet piano yang dibuat Mozart sepanjang hidupnya..". Jemarinya dengan lincah memainkan tuts piano.
Sang pria berkata "Namun aku merasa bahwa ini semua mustahil.."
Gurunya menjawab "Aku tahu sejauh mana kemampuanmu. Sekarang, bagaimana kalau kita memainkannya?"
Sang pria terpaksa memainkannya. Jemari mereka pun menari di atas tuts piano. Mengalunlah musik yang ceria bagaikan di musim panas. Lalu turun dengan lembut bagai hembusan angin di musim semi. Lalu gerakan Andante, lalu Molto Allegro, dimana sinkronisasi antara dua piano sangat dibutuhkan dengan tingkat kejelian yang tinggi.
Gurunya bertepuk tangan lalu berkata "Kamu tahu? Komposisi ini tidak dibuat Mozart untuk muridnya yang berbakat.."
Sang pria pun terdiam mendengar ucapan gurunya tersebut.
"Komposisi ini lebih kepada tujuan untuk menikmati musik sepenuh hati, dengan memainkannya bersama murid kesayangannya," beliau menambahkan.
Singkat cerita, walaupun kesal, sang pria terus melatih sang wanita yang kemampuannya sangat payah. Ia terus menerus bersikap dingin dan mungkin terlihat menyebalkan, namun anehnya, sang wanita tetap saja bersemangat dalam belajar, walau harus kurang istirahat karenanya.
Dan pada akhirnya, saat ujian tiba, mereka pun memainkannya. Diawali dengan Allegro con spirito, lalu Andante yang seakan menjerat pendengarnya sampai detik terakhir, lalu sampailah ke bagian terakhir, Molto Allegro.
Dan pada hari itu, sang pria mendapatkan tepuk tangan yang paling bergemuruh selama hidupnya..
Ketika di belakang panggung, sang guru menemuinya sambil tersenyum bangga.
"Aku tahu kau bisa melakukannya. Aku tahu bahwa dengan partitur tersulit pun kau akan bisa memainkannya secara sempurna," ucapnya.
Sang pria memandang gurunya, bingung.
"Namun bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin kau melihat sisi lain dari kehidupan ini, merendahkan egomu dan skillmu untuk mengimbangi ia yang skillnya lebih rendah darimu. Aku hanya ingin agar kau mampu menciptakan harmonisasi dengan orang lain, sekalipun kemampuannya jauh berada di bawahmu," lanjutnya sambil tersenyum.
Ia tertegun, dan ia pun sadar bahwa sonata dua piano yang ia mainkan bersama sang wanita berarti lebih dari itu. Sebuah lagu yang iramanya saling melengkapi dan tak dapat dimainkan sendiri. Perlahan ia mulai menghapus keangkuhannya dan mulai berubah menjadi orang yang lebih baik.
***
Sama seperti kita bermain angklung, nada-nada yang menari di udara saling melengkapi satu sama lain. Sama seperti babeh Eddy dan arranger lain yang selalu mengaransemen lagu untuk kita. Aransemen itu dibuat bukan karena kita berbakat, namun karena mereka ingin agar kita memainkannya dengan sepenuh hati, menciptakan harmonisasi yang menjerat hati setiap orang yang membuat mereka candu akan musik. Seperti kita yang mungkin candu akan angklung, angklung addicted.
Dan lagi, musik sejati bukanlah musik dengan partitur tersulit atau musik yang dimainkan dengan elegansi dan kemewahan. Musik sejati adalah musik yang dimainkan dengan hati :)
Thanks to : penulis cerita yang menginspirasi saya yang saya tidak bisa menyebutkan siapa karena satu dan lain hal..
Dan untuk kalian, siapapun yang membaca ini.. Keep on spirit :)
Untuk kalian anak GS : Tetap saling menguatkan. Tetap saling melengkapi. Kita selamanya keluarga besar Gentra Seba kan? :)
22032013.
Ceritanya mengenai seorang pria yang sangat mahir bermain piano. Pria ini terkenal dengan sifatnya yang dingin, dan di akademi tempat ia belajar, sebelum lulus semua murid yang sudah senior harus membimbing seorang murid junior sebagai tugas akhirnya. Hal yang sama berlaku pada si pria ini.
Pembimbing sang pria menyuruh sang pria untuk membimbing seorang junior wanita. Nah, junior ini sama sekali tidak bisa memainkan musik klasik dengan piano. Sebagai senior yang merasa dirinya perfect, sang pria pun menganggap remeh sang wanita.
Keesokan harinya, ia dan sang wanita bertemu di ruang piano. Sudah ada dua grand piano disana, dan sang pria melemparkan sebuah buku kepada wanita tersebut. Judulnya "Mozart's Sonata for Two Pianos". Komposisi ini dibuat oleh Mozart dan dimainkan bersama muridnya, Josephine von Aurnhammer. Terdiri dari tiga gerakan : Allegro con spirito, Andante, dan Molto Allegro (jujur saya juga nggak ngerti istilah begini -.-) . Setelah itu ia meninggalkan sang wanita yang masih duduk terdiam dengan muka shock. Ia pergi ke ruangan gurunya.
Sesampainya di sana, gurunya melihatnya sambil tersenyum. Gurunya berkata "Sonata for Two Pianos adalah satu-satunya partitur untuk duet piano yang dibuat Mozart sepanjang hidupnya..". Jemarinya dengan lincah memainkan tuts piano.
Sang pria berkata "Namun aku merasa bahwa ini semua mustahil.."
Gurunya menjawab "Aku tahu sejauh mana kemampuanmu. Sekarang, bagaimana kalau kita memainkannya?"
Sang pria terpaksa memainkannya. Jemari mereka pun menari di atas tuts piano. Mengalunlah musik yang ceria bagaikan di musim panas. Lalu turun dengan lembut bagai hembusan angin di musim semi. Lalu gerakan Andante, lalu Molto Allegro, dimana sinkronisasi antara dua piano sangat dibutuhkan dengan tingkat kejelian yang tinggi.
Gurunya bertepuk tangan lalu berkata "Kamu tahu? Komposisi ini tidak dibuat Mozart untuk muridnya yang berbakat.."
Sang pria pun terdiam mendengar ucapan gurunya tersebut.
"Komposisi ini lebih kepada tujuan untuk menikmati musik sepenuh hati, dengan memainkannya bersama murid kesayangannya," beliau menambahkan.
Singkat cerita, walaupun kesal, sang pria terus melatih sang wanita yang kemampuannya sangat payah. Ia terus menerus bersikap dingin dan mungkin terlihat menyebalkan, namun anehnya, sang wanita tetap saja bersemangat dalam belajar, walau harus kurang istirahat karenanya.
Dan pada akhirnya, saat ujian tiba, mereka pun memainkannya. Diawali dengan Allegro con spirito, lalu Andante yang seakan menjerat pendengarnya sampai detik terakhir, lalu sampailah ke bagian terakhir, Molto Allegro.
Dan pada hari itu, sang pria mendapatkan tepuk tangan yang paling bergemuruh selama hidupnya..
Ketika di belakang panggung, sang guru menemuinya sambil tersenyum bangga.
"Aku tahu kau bisa melakukannya. Aku tahu bahwa dengan partitur tersulit pun kau akan bisa memainkannya secara sempurna," ucapnya.
Sang pria memandang gurunya, bingung.
"Namun bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin kau melihat sisi lain dari kehidupan ini, merendahkan egomu dan skillmu untuk mengimbangi ia yang skillnya lebih rendah darimu. Aku hanya ingin agar kau mampu menciptakan harmonisasi dengan orang lain, sekalipun kemampuannya jauh berada di bawahmu," lanjutnya sambil tersenyum.
Ia tertegun, dan ia pun sadar bahwa sonata dua piano yang ia mainkan bersama sang wanita berarti lebih dari itu. Sebuah lagu yang iramanya saling melengkapi dan tak dapat dimainkan sendiri. Perlahan ia mulai menghapus keangkuhannya dan mulai berubah menjadi orang yang lebih baik.
***
Sama seperti kita bermain angklung, nada-nada yang menari di udara saling melengkapi satu sama lain. Sama seperti babeh Eddy dan arranger lain yang selalu mengaransemen lagu untuk kita. Aransemen itu dibuat bukan karena kita berbakat, namun karena mereka ingin agar kita memainkannya dengan sepenuh hati, menciptakan harmonisasi yang menjerat hati setiap orang yang membuat mereka candu akan musik. Seperti kita yang mungkin candu akan angklung, angklung addicted.
Dan lagi, musik sejati bukanlah musik dengan partitur tersulit atau musik yang dimainkan dengan elegansi dan kemewahan. Musik sejati adalah musik yang dimainkan dengan hati :)
Thanks to : penulis cerita yang menginspirasi saya yang saya tidak bisa menyebutkan siapa karena satu dan lain hal..
Dan untuk kalian, siapapun yang membaca ini.. Keep on spirit :)
Untuk kalian anak GS : Tetap saling menguatkan. Tetap saling melengkapi. Kita selamanya keluarga besar Gentra Seba kan? :)
22032013.