Ini hanyalah sekelumit cerita perjalanan kami, tentang mimpi kami yang jadi nyata. Kami hanyalah orang-orang biasa yang percaya akan keajaiban, orang-orang yang berlari mengejar mimpi sampai tak mengerti apa artinya kemustahilan, sampai kebal dengan apa yang disebut kegagalan.
Semuanya berawal dari saat PLP bulan April kemarin. Saat di DISPARDA Bali, dibahas tentang diadakannya Pesta Kesenian Bali. Melihat adanya peluang, kami pun mencoba untuk mengikuti event tersebut, namun sayangnya katanya pendaftaran sudah ditutup. Tapi jalan pun kembali terbuka dengan diberikannya nomor seorang Bapak yang bertugas menyusun jadwal di Pesta Kesenian Bali.
Setelah dihubungi, Bapak tersebut tidak dapat memastikan apakah kami dapat berpartisipasi di dalamnya karena jadwal sudah masuk ke percetakan. Namun setelah mendengar bahwa kami akan menampilkan angklung, beliau berjanji akan mengusahakannya.
Setelah terombang-ambing dalam ketidakpastian, sekitar bulan Mei akhir, kami dihubungi bahwa kami dapat tampil di Pesta Kesenian Bali. Ini hanyalah awal dari mimpi kami, perjuangan kami. Awal dari masalah-masalah kami tentang keberangkatan tim kami ke Bali.
Kami pun bekerja tanpa kenal waktu, dari mulai menyusun proposal, menyebarkan proposal, membuat desain, dan mengusahakan apapun yang kami bisa untuk mendapatkan dana.
Waktu pun makin sempit.. Kegagalan demi kegagalan kami alami. Putus asa? Mungkin pernah terjadi. Bagaimana mungkin mengumpulkan dana yang cukup besar dalam waktu sebulan. Pikiran kami pun bercabang, apalagi dengan kewajiban kami sebagai mahasiswa yang harus dipenuhi juga. Kuliah, latihan, dan masih harus bekerja mencari dana juga.
..dan kadang kami berpikir bahwa semua ini mustahil terjadi. Tapi ketika kemustahilan semakin nyata, semakin cepat kami berlari. We go through the limit.
Bukan jarang beberapa dari kami menginap di GS untuk merampungkan segala pekerjaan. Menderita? Tidak. Di saat kau bekerja keras bersama dengan saudaramu, di saat menangis bersama pun akan menjadi momen yang berharga. Dan kami mengalaminya.
Satu demi satu pihak pun bermunculan, mengajarkan kami untuk mempercayai keajaiban. Memberikan semangat pada kami untuk terus maju. Kami terus percaya karena orang-orang di sekitar kami pun percaya bahwa kami bisa melaluinya.
Kami hanya berharap yang terbaik. Mengusahakan yang terbaik. Dan mendapatkan hasil yang terbaik.
Saat hari H menghampiri, keajaiban makin nyata di mata kami. Berbagai bantuan baik moril maupun materiil mengalir dari berbagai arah. Kami hanya dapat berterimakasih dan berjanji akan mengusahakan yang terbaik bagi semuanya.
Satu demi satu kebutuhan kami terpenuhi, dari mulai transportasi, penginapan, dan kebutuhan lainnya.
Dan akhirnya, pada tanggal 7 Juli 2013, tim kami pun berangkat. Dengan diiringi doa restu dari pihak STBA YAPARI-ABA Bandung, kami menuju ke Pulau Bali.
Penampilan demi penampilan kami lalui, belasan lagu kami mainkan. Tepuk tangan bergemuruh dari penonton, namun itu bukan berarti kami harus sombong dengan semuanya.
Peluh dan tangis berganti dengan senyuman. Kebahagiaan kami adalah karena kami dapat melalui semuanya bersama, membawa nama baik tim, lembaga, kota, provinsi, dan juga Indonesia.
Kami hanya dapat berterimakasih pada semua pihak yang telah mendukung kami dan membantu kami dalam mewujudkan mimpi kami. Support kalian semua sangat berarti.
We did it, guys.. Kita berhasil mengalahkan segala ketakutan. Ini hanyalah sebuah mimpi yang telah kita capai, masih banyak mimpi lain yang kita punya. Jangan berhenti berlari dan jangan takut terjatuh. Semua perjuangan kita terukir rapi di dalam hati dan ingatan kita.
Dan kita bangga memiliki satu sama lain. Kita, keluarga. Terimakasih untuk pengorbanannya, perjuangannya, keringat, air mata, darah, dan segala yang kalian berikan. Dan semuanya tak ada yang sia-sia.
Semangat untuk mimpi selanjutnya !^^
There can be miracles, when you believeThough hope is frail, it's hard to kill Who knows what miracles you can achieveWhen you believe, somehow you will You will when you believe ..
Bandung, 17 Juli 2013
-KPAP Gentra Seba_